Tradisi Meugang Di Aceh

in StemSocial2 years ago
Meugang adalah tradisi masyarakat Aceh yang sudah turun temurun dari dulu. Meugang dalam setahun hanya ada 3 kali, yaitu sebelum Ramadhan, hari Raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha. Pada hari meugang para pedagang daging sapi atau kerbau akan membanjiri pasar hingga pinggir jalan di Aceh.


20210411164858791.jpg


Yang cukup menarik pada hari meugang yaitu pembeli tidak hanya para ibu-ibu, tetapi bapak-bapak ikut membanjiri pasar. Beda halnya di hari biasa, yang membanjiri pasar adalah ibu-ibu. Tidak ada tawar menawar untuk membeli daging. Karena daging di hari meugang wajib dibawa pulang, baik itu untuk menyenangkan istri, anak, orangtua maupun mertua.

Kegiatan ibu-ibu tidak cukup sesudah membeli daging, masih ada kegiatan yang harus dilakukannya. Daging yang dibeli harus dimasak dan diolah menjadi kari atau rendang, karena itu makanan khas Aceh. Daging yang dimasak nantinya akan menjadi santapan keluarga dan para tamu di hari raya.


Pejual-daging-di-hari-meugang-di-Aceh.jpg


Source Picture


Tradisi meugang di Aceh sudah ada sejak masa Kesultanan. Malah tradisi meugang waktu kesultanan di atur dalam Qanun. Qanun tersebut disyarahkan Tgk Di Mulek, dalam Bab II Pasal 5 Qanun Meukuta Alam. Di dalam qanun dijelaskan bahwa keuchik (kepala desa, red) akan mendata jumlah fakir miskin, janda, anak yatim, dan orang sakit yang ada di kampungnya beberapa hari sebelum Meugang.

Sangat berbeda masa meugang sekarang dan masa Kesultanan. Daging meugang di masa Kesultanan diberikan oleh Sultan melalui kepala desa kepada masyarakat. Sedangkan di masa sekarang daging meugang harus dibeli sendiri dan malah ini sudah menjadi kewajiban untuk dibeli dan dibawa pulang ke rumah.