Media Sosial, Bukan Tempat Untuk Mengumpat

in GEMSlast year (edited)

IMG20200408115208.jpg


Penghinaan di media sosial ini memang semakin marak. Memang menemukan kata-kata kasar di media sosial memang mudah sekarang. Banyak orang yang berpikir ini bisa mengungkapkan apa saja di media sosial, padahal menggunakan media sosial itu ada aturannya.

Dan ini memang paling penting, dan yang paling pasti bahwa media sosial atau medsos, bukan tempat untuk mengumpat.

Media sosial kini tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari sebagian masyarakat. Berbagai hal di tumpahkan di media sosial.



FB_IMG_1465477853977.jpg

Media sosial tak sekedar menjadi wadah untuk berbagi cerita. Media sosial kerap di jadikan ajang saling cela.

Kata-kata kasar kini berseliuran di media sosial. Kasus-kasus penghinaan pun bermunculan. Salah satu warga yang aktif menggunakan sosial media adalah Zul, seorang Mahasiswa Unimal, Reuleet, Aceh Utara.



Screenshot_2020-04-08-15-16-06-944.png

Ia menuliskan apa yang ia rasakan, tak terkecuali luapan marah. Zul, menganggap jejaring sosial adalah akun pribadinya. Jadi, dia bebas mengekspresikan apa yang ia rasakan. Apalagi ini negara demokrasi, jadi apa yang lagi curhat, bosan, ya dia luapkannya ke media sosial.

Selain Zul, ada M. Hasan, salah satu pelajar SMA Negeri Kambam ini aktif menggunakan media sosial. Tak jarang ia melontarkan kata-kata serangan, terutama kepada pemerintah.



Screenshot_2020-04-08-15-17-06-64.png

M. Hasan, tidak mengetahui ada sanksi yang mengikat masyarakat yang menggunakan sosial media secara hukum, maupun secara sosial.

Selain M. Hasan, masih banyak pengguna media sosial lain yang tidak tau bahwa ada aturan dalam berbagi di media sosial.

Masih banyak masyarakat yang menganggap media sosial sebagai rimba tak bertuan, sebuah tempat berbagi tanpa batasan. Padahal apabila melanggar Undang-Undang ITE, hukumannya pidana maksimal 6 tahun penjara, dan denda hingga 1 Milyar Rupiah.

Aturan menggunakan media sosial yang telah di atur pasal 27 Undang-Undang ITE, di antaranya masyarakat tidak boleh menyebarkan hal-hal yang sifatnya melanggar kesusilaan. Misalnya menjajakan diri.

Yang kedua tidak boleh mengajak berjudi.

Ketiga, di larang mencemarkan nama baik seseorang, maupun institusi. Pemerasan, dan pengancaman juga di larang di sebar luaskan di media sosial.

Kalau menurut saya, perkembangan teknologi informasi sudah jauh, melompat jauh. Tapi kita masih ketinggalan cara-cara beretika, sopan santun di media sosial.

Mungkin karena sebagian besar di mereka itu tidak faham betul.



IMG20200408113729.jpg

Gambar: Ilustrasi

Tidak semua yang berbicara kasar di media sosial harus di tangkap dan di penjarakan. Untuk di pidanakan harus jelas kepada siapa tulisan itu di tujukan. Tidak bisa orang, misalnya saya mencela seorang satu Jogja, itu enggak jelas. Harus jelas siapa yang di sakiti, dan yang di sakiti itu melapor kepada Polisi. Jadi, sifatnya dari aduan, seperti itu.

Jadi, kalau enggak ada yang melapor, ya enggak apa-apa.

Selain sanksi hukum, di media sosial juga berlaku etika sosial. Bersosialisasi di media sosial sama seperti di dunia nyata.

Kita kan hidup enggak sendiri, kita bertetangga, kita punya teman, kita punya orang lain di lingkungan kita. Sehingga kita ketika kita bicara, orang tadi kalau ada yang dengar tersinggung, ya dia akan bereaksi sama kita. Oleh karena itu, kebebasan kita itu kebebasannya di batasi oleh kebebasan orang lain.

Menerapkan etika sosial saat menggunakan media sosial bisa menahan seseorang dari menulis umpatan.

"Ketika kamu sedang marah, ketika kamu sedang geram, ketika kamu ingin ngamuk, hindari Ponsel, hindari Laptop, hindari apapun yang membuat kita dekat sama sosial media.

Kenapa ?

Karena kita kan otomatis marah di media sosial.

Menggunakan media sosial dengan sehat, masih menjadi pekerjaan rumah di negeri ini. Berbagai hal positif tentu lebih baik daripada mengumpat. Karena sejatinya media sosial memang bukan tempat untuk mengumpat.

Salam Steemian Indonesia 💫

~Keep writing~

IMG_20180321_112759.jpg

Salam Sahabat Inspiratif